Strict Standards: Redefining already defined constructor for class WPSEOPaginate in /home/u8295992/public_html/wp-content/plugins/wp-seo-paginate/wp-seo-paginate.php on line 83

Notice: Use of undefined constant REQUEST_URI - assumed 'REQUEST_URI' in /home/u8295992/public_html/wp-content/themes/boombox/functions.php on line 73
Cinta Sejati dan Terhindar dari Penyakit Cinta - Bela Kepentingan Rakyat!

Cinta Sejati dan Terhindar dari Penyakit Cinta


KNews, Jakarta- Cinta itu adalah jiwa. Antara cinta yang sejati dan jiwa tak dapat dipisahkan. Cinta pun merdeka sebagaimana jiwa. Cinta itu terkadang mustahil. Tetapi kemustahilan itulah yang kerap kali menumpuk rasa cinta.

 

Seseorang yang terkena penyakit cinta, maka ia (seolah-olah) takut akan terkena cinta itu. Itulah dua sifat dari cinta. Cinta itulah yang merupakan (menyerupakan) dirinya menjadi sebuah ketakutan. Cinta itu kerap kali berupa putus harapan, takut, cemburu, iba hati dan kadang-kadang berani. (Namun) terkadang cinta itu hanya menurutkan hati, bukan perintah otak. –Buya Hamka dalam Di Bawah Lindungan Ka’bah

 

Ini bukan tentang cinta. Tapi sangat berkaitan erat dengannya. Ini tentang cemburu. Pada siapa lagi kalau bukan padamu.

 

Cemburu persis seperti cara kerja rindu. Datang tidak tahu waktu. Apalagi malu. Cemburu begitu tidak tahu itu. Tetiba mendesak masuk menyesaki hati. Mengakibatkan perih serupa tersayat sembilu. Namun, bagi yang berani jatuh cinta, harus pula rela cemburu. Cinta dan cemburu juga rindu dicipta menjadi kesatuan yang padu. Memisahkan mereka sama dengan membuat pincang ketiganya. Membuat potensi kesan jadi terbang menghilang.

 

Cemburu itu wajar. Tidak pernah cemburu pada yang disuka, pada yang dicinta, itu justru kurang ajar. Apakah benar kamu mencintainya? Atau pura-pura saja? Harus ada cemburu dalam hatimu. Namun, kamu gunakan saja seperlunya. Kamu tunjukkan dengan semestinya. Dengan cemburu kamu bisa bekerja begitu keras. Karena kalau tidak, kesedihan akan menerkam wajah indah wanitamu. Karena kalau tidak, sengsara akan menghampiri bidadarimu. Tidakkah kamu rela kesedihan dan kesengsaraan mencuri perhatiannya dari dirimu?

 

Aku cemburu padamu. Pada apa yang kamu senangi. Pada apa yang membuatmu tersenyum. Pada malam. Karena aku tahu meskipun malam itu gelap, matamu kadang sulit terpejam. Pada mimpimu. Karena ia lebih bisa membuat kamu sumringah ketika itu berhasil kamu wujudkan. Pada gunung. Karena sedikit banyak, aku tahu kamu suka mendaki, melepaskan penat di hati.

Ah, aku cemburu pada apapun yang membuatmu terbebas dari murung yang membikinmu siap kembali jadi petarung. Kalau bisa, aku ingin menjadi semua yang kamu suka. Semuanya berubah jadi diriku saja!

 

Semoga kamu bertanya, “kenapa kamu menulis ini?” Tidak kamu tanyakan langsung. Hanya terbersit di pikiranmu saja, ketika dimaksudkan atau tidak, kamu membaca tulisan ini.

Kamu pasti sudah tahu jawabannya.

 

“Aku sedang cemburu.”

Kalau kamu kira, aku pura-pura, mari kita bertukar raga. Rasakan gelora darah bergemuruh. Detak jantung melipat tak terbendung. Ini nyata, bukan dusta. (Sumber: Muhammad Irfan Ilmy | Bandung, 10 Januari 2017).

Bagikan/Simpan

Comments 0

Your email address will not be published.

CommentLuv badge

You may also like

More From: Article

DON'T MISS